Minggu, 24 November 2013

Sekedar renungan untuk melestarikan sebuah bangsa
Di tapak Gunung Rinjani.

Masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok menempatkan gunung Rinjani lebih dari sekedar jajaran gunung tertinggi di Indonesia. Rinjani adalah plasma nuktoh dan sekaligus pusat kosmos bagi masyarakat Sasak. Pada Gunung Rinjani terakumulasi pandangan masyarakat Sasak tentang saujana alam dan budayanya. Secara fisik maupun spiritual Rinjani adalah pusat kosmos masyarakat Sasak. Secara fisik menjadi orientasi dalam konsep tata ruang makro, meso maupun tata ruang mikro, dan secara spiritual Rinjani merupakan pusat kekuatan, tempat berhimpunnya roh nenek moyang bersama para wali dari seluruh penjuru dunia. 

Secara fisik maupun spiritual, Rinjani merupakan pusat kekuatan sehingga disebut sebagai “pasek gumi” atau pasak bumi. Rinjani juga disebut sebagai “teken langit” atau tiang langit yang menyangga langit dan secara spiritual menjadi media yang dianggap dekat dengan Singgasana Yang Maha Kuasa. Maka dengan pandangan ini masyarakat Sasak banyak melakukan ritual-ritual spiritual di Gunung Rinjani. Ritual-ritual spiritual seperti pertapaan atau meditasi dilaksanakan pada titik-titik tertentu yang juga diyakini sebagai pintu alam gaib. Tentu saja hal ini dilakukan dengan pendekatan-pendekatan gaib oleh para ahli spiritual, para penguasa kosmos yang dalam masyarakat Sasak disebut Belian. Pada bulan-bulan tertentu (muharam, mulud, rajab) masyarakat Sasak banyak yang melakukan ritual pertapaan atau ritual-ritual nazar tertentu atau untuk menyempurnakan “ilmu laku” yang sedang dijalaninya. Bahkan masyrakat Sasak juga sangat meyakini bahwa para Wali yang dahulu besemayam di Lombok berangkat untuk melaksanakan ibadah haji mulai dari Gunung Rinjani. Hingga saat ini para ahli spiritual (para guru tarikat Sasak) memiliki keterikatan secara spiritual dengan Rinjani.

Sebagai pusat kosmos, kehidupan masyarakat Sasak di Pulau Lombok sangat tergantung pada kondisi gunung Rinjani. Tentu saja hal ini sangat bisa dipahami karena sumber mata air pulau Lombok adalah Danau Segara Anak yang mengalirkan hampir seluruh sungai yang ada di Lombok. Keselamatan dan kelestarian hutan di kawasan gunung Rinjani akan berpengaruh terhadap ketersediaan air di seluruh gumi Sasak. Keberadaan Rinjani sebagai pusat kosmos yang diyakini sebagai pusat spiritual, teraplikasi dalam penataan ruang dalam arsitektur Sasak. Pembangunan rumah masyarakat Sasak mengacu pada orientasi “lauq – daye” (utara selatan) atau mengacu pada posisi pusat kosmos. Di dalam rumah tradisional Sasak sebai ruang mikro, juga ada ruang yang dirancang sebagai manivestasi pusat kosmos yang disebut dengan “bale dalam” atau “inen bale” yang biasanya digunakan untuk kegiatan ritual dan penyimpanan benda-benda pusaka. 

Gunung Rinjani dijaga oleh seorang Putri bernama Dewi Anjani yang bersemayam di sebuah kerajaan jin yang memiliki peradaban tinggi. Para penziarah dan pelaku pertapaan (meditasi) yang telah diijinkan memasuki wilayah kerajaan Dewi Anjani banyak menceriterakan tentang keindahan dan kemajuan di alam sana. Ada beberapa penutur yang secara fisik pernah melihat Dewi Anjani muncul di danau Segara Anak mengendarai seekor naga yang gagah diiringi oleh beberapa naga lain yang lebih kecil. 

Dewi Anjani secara mitologis juga diyakini memerintahkan para 40 pasang Jin Bangsawan untuk menjelma menjadi manusia. Diantara 40 orang itu ada seorang Penghulu yang dikenal dengan nama Penghulu Alim. Penghulu inilah yang melahirkan Doyan Nade yang menjelajah Gumi Sasak ini, membebaskan Tameng Moter dan Sigar Penjalin dari pertapaannya. Ketiganya kemudian memperisteri para puteri raja dari Majapahit, Sunda dan Madura. Dengan karakter masing-masing dan dukungan para isteri ketiganya melahirkan para Pemimpin Sasak baik dalam bidang adat, pemerintahan maupun agama. 

Gunung Rinjani, Dewi Anjani dan lingkungan mitologis yang dibangunnya adalah cita-cita masyarakat Sasak yang tersembunyi dan tak pernah disentuh untuk dikaji dalam konteks peradaban modern. Sebagian orang menyebutnya mitos, dan memang benar itu mitologi. Namun demikian bukan berarti tidak bermakna. Bangsa manapun memiliki mitologi dan mengkajinya menjadi semangat dengan pendekatan transformatif. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih untuk mampir di blog yang gak jelas ini
tapi mohon bimbingannya untuk para senior